Image Hosted by ImageShack.us

Iklan

Image Hosted by ImageShack.us

Selasa, 30 Desember 2008

Tangkas Kori Agung (Arya Kanuruhan)


Putra dari Arya Kanuruhan yang kedua adalah Kiyayi Tangkas yang sering pula disebut Pangeran Tangkas. Beliau berlugas ( mendapat tugas ) dari raja sebagai Rakryan Apatih, karena Kiyayi Tangkas sangat bakti kepada Dalem, sehingga Pangeran Tangkas dipergunakan sebagai Rakryan Patih tedeng aling aling raja. Kesetiaan Pangeran Tangkas terhadap raja maka segala perintah raja tidak pernah ditolaknya.

Tersebutlah Pangeran Tangkas diperintahkan oleh Raja untuk memegang tampuk pemerintahan di wilayah Kertalangu oleh karena pemegang wilayah Kertalangu ( keturunan Arya Demung Wangbang) meninggalkan wilayah tersebut karena mereka dikalahkan oleh semut. Untuk mengisi dan mengamankan wilayah Kertalangu ditempatkannyalah Pangeran Tangkas disana.

Di Kertalangu inilah akhimya Pangeran Tangkas tinggal menetap. Pangeran Tangkas, beliau mempunyai seorang putra, yang bemama Kiyayi Tangkas Dimade. Karena dimanjakan akibatnya Tangkas Dimade akhimya buta mengenai huruf sandi.

Pada suatu hari ada seorang yang dianggap salah oleh raja dan menurut sesana ( hukum ) orang ini harus dihukum mati. Orang yang salah ini diutus oleh raja ( Dalem ) untuk membawa surat ke Badung ( Kertalangu ). Adapun isi surat ini adalah

pa - pa - nin - nga - tu - sc - li - ba - nc - te -tih.

Dalam tulisan rahasia tersebut diatas, Dalem bermaksud membunuh orang yang membawa surat ini, akan tetapi setelah Sang membawa surat tiba di Kertalangu, maka Pangeran Tangkas saat ini tidak berada di rumah, karena beliau pergi ke tegalan mencari burung, oleh sebab itulah anaknya didekati oleh utusan tersebut, dan Tangkas Dimade yang sedang bekerja di sawah lalu diberikan surat tersebut karena Tangkas Dimade tidak bisa membaca hurup sandi maka surat yang diberikan oleh utusan tersebut diterima dcmikian saja. Setelah surat tersebut diterima maka utusan tersebut pergi dengan cepat. Pada saat ayahnya tiba di rumah maka ayahnya didekatinya serta diaturkan surat tersebut kepada ayahnya dan dengan segera surat tersebut di baca isinya, berkatalah ayahnya kepada putranya Tangkas Dimade. ; ” Anakku Tangkas, apakah dosa yang kamu buat terhadap Dalem ? karena isi surat ini menyebutkan bahwa ayah membunuh bagi ia yang membawa surat ini. Siapakah yang membawa surat ini ‘ Apakah dosamu terhadap Dalem ?, dan bingunglah ayahnya berpikir - pikir mengenai hal tersebut. Berkatalah putra beliau : ” Ya ayahku sama sekali saya tidak merasa din bersalah terhadap Dalem, sedikitpun saya tidak merasakannya, bersalah terhadap beliau sesungsungan kita.

Mendengar ucapan putranya itu menangislah ayahnya, sambil menasehati anaknya ” Jika demikian halnya, tetapkanlah pendirianmu sebagai tanda bakti pada raja ( Dalem ), bila kamu benar, hai ini merupakan jalan utama yang ditunjukkan kepadamu untuk menuju ke jalan sorga Banyak lagi nasehat - nasehat yang diberikan kepada anaknya dalam rangka menghadapi kematian itu. Sehingga hati anaknya mempunyai keikhlasan untuk siap mati dibunuh oleh ayahnya.Tak beberapa lama tersebarlah berita di seluruh wilayah Kertalangu bahwa Tangkas Dimade akan dibunuh oleh ayahnda. Sehingga banyaklah warga desa Kertalangu datang berianya mengenai hal ikhwal terjadinya musibah tersebut. Sebelum anaknya dibunuh maka disuruhlah Tangkas Dimade melakukan persembahyangan, setelah itu dilaksanakannyalah Upacara mejaya - jaya dengan diberikan puja oleh Pendeta Ciwa dan Buddha.

Setelah selesai upacara mejaya - jaya maka diantarlah putranya menuju setra tempat pembunuhan, di dalam perjalanan menuju ke setra, Tangkas Dimade diiringi oleh isak tangis sepanjang jalan, karena Tangkas Dimade sangat sopan dalam pergaulan, dan masih jejaka, dan sedang senangnya hidup.

Setelah tiba di kuburan, disuruhlah Tangkas Dimade melakukan persembahyang tempat pembakaran jenasah, untuk memohon tempat yang layak bagi dirinya kepada Sanghyang Dharma. Setelah selesai melakukan persembahyangan, maka ayah Pangeran Tangkas mengambil keris lalu menusuk putranya yang tercinta, hanya satu kali tusukan, robohlah Tangkas Dimade pada saat itu juga.

Diceritrakan kembali orang yang membawa surat tersebut kini telah tiba diistana Dalem di Gelgel, lalu menghaturkan sembah kepada raja dengan mengatakan : Maafkan hamba ratu Dalem, bahwa segala perintah yang tuanku berikan kepada hamba, hamba telah laksanakan dan kini hamba telah kembali dengan selamat.

Melihat kejadian ini maka terkejutlah Dalem (raja ) dan beliau berkata

-Hai kamu utusanku, apa sebabnya kamu cepat kembali ?

-Siapakah yang kamu berikan surat perintahku itu ?

Katakanlah dengan cepat !

Bersembah sujudlah utusan tersebut, lalu berkata : Maafkan hamba tuanku, surat perintah tuanku telah hamba berikan kepada putra dari Ki Pangeran Tangkas, akan tetapi surat tersebut hamba haturkan saat putra beliau berada di tengah sawah. Oleh sebab Pangeran Tangkas beliau tidak ada di rumah, dan setelah itu hamba balik kembali ke istana, itulah sebabnya hamba dengan cepat tiba kembali.

Mendengar uraian yang disampaikan itu maka sangat terkejutlah sang raja dan segera mengutus seorang utusan untuk lari dengan cepat ke Kertalangu (Badung) untuk mencegah pembunuhan yang dilakukan oleh Pangeran Tangkas, walaupun bagaimana cepatnya utusan menunggang kuda, akan tetapi kecepatan ini sudah terlambat dimana utusan ini telah melihat sendiri mayat putra Pangeran Tangkas telah terbunuh. Terccnganglah utusan raja karena terlambat clan segera kembali ke Gelgel. lalu melaporkan hal ini kepada Sang raja, setelah menenma laporan beliau menjadi dian, dan berkata dalam hati beliau ” Oh Tangkas engkau bunuh puteramu sendiri- yang tidak ada bersalah sama sekali karena baktimu kepadaku“.

Tersebutlah Pangeran Tangkas sekarang telah di tinggalkan mati olch putra ueiiau, beliau lama tidak mau menghadap kepada Dalem karena sedih hati beliau, waiaupun Dalem telah berkali-kali memanggil beliau untuk menghadap, akan tetapi perintah Dalem tidak diperhatikan.

Melihat hal semacam ini berpikir-pikirlah Dalem dan akhimya diutuslah seorang utusan untuk menghadap kepada Pangeran Tangkas di Kertalangu ( Badung ), untuk meminta dengan sangat agar Pangeran Tangkas datang untuk menghadap raja. Pada saat inilah pertama kali Pangeran Tangkas datang ke Puri Gelgel. Pada saat tibanya Pangeran Tangkas di istana Gelgel, raja sedang mengadakan rapat dengan para Maha Menteri, Patih, dan lain - lainnya. Melihat Pangeran Tangkas datang maka raja meninggalkan rapat, lalu menerima kedatangan Pangeran Tangkas, serta dengan cepat raja berkata : Mariiah engkau dekat padaku Tangkas IBerdatang sembahlah Tangkas, Maafkan hamba orang yang hina dina ini duduk di bawah Tuanku ! Mendengar ucapan Pangeran Tangkas ini dengan nada sedih, berkatalah kembali Sang Raja : ” Hai kamu Kiyayi Tangkas, bangunlah kamu, dan janganlah kamu duduk di bawah, mariiah engkau dekat denganku !. Karena perintah raja yang tegas ini maka bangunlah Pangeran Tangkas dari tempat duduknya terbawah, dan berdatang sembah mendekati raja.

Dengan mendekatnya Pangeran Tangkas kepada raja, maka mulailah raja berkata kembali kepada Pangeran Tangkas, dengan lembut, dan kata beliau ( raja ) sebagaiberikut:

” Hai Kiyayi Tangkas, aku ingin bertanya kepadamu, apakah yang menyebabkan kamu lama tidak menghadap kepada rajamu 7Apakah hai (ersebut disebabkan karena anakmu yang mati yang disebabkan perintahku yang kurang tegas itu padamu ? Mendengar pertanyaan raja ini, menyautlah Pangeran Tangkas : ” Maafkanlah hamba tuanku, hamba lakukan itu semua karena bakti hamba kepada sungsungan hamba yaitu Tuarvku sendiri “. Mendengar ucapan. Pangeran Tangkas itu terketuk hati Sang raja, karena mengenang bahwa keturunan itu adalah yang amat penting dalam ajaran agama , karena itulah beiiau berpikir - pikir lalu bersabda:

Hai kamu Pangeran Tangkas, janganlah karena kejadian tersebut engkau menjadi sedih, karena hal tersebut sudah berlalu, dan tidak akan bisa kembali lagi, lupakanlah itu semua! Akan telapi untuk meneruskan keturunanmu itu agar Tangkas jangan menjadi lenyap, maka kini aku akan memberikan kepadamu seorang istriku yang sedang hamil, dan umur kandungannya baru 2 ( dua ) bulan, istriku inilah engkau harus ambil, untuk meneruskan keturunanmu. sehingga keturunan Tangkas tidak putus akan tetapi ada yang ku minta kepadamu adalah:

Janganlah kamu menghilangkan (anyapuh) persanggamaan yang telah dilakukan olehku sendiri !

Apabila anak itu telah lahir kemudian, maka anak tersebut kamu beri nama

dan panggil dengan nama Ki Pangeran Tangkas Kori Agung

Dari hal tersebut di atas maka Tangkas ialu berkata : Maafkanlah hamba Tuanku Dewa Bhatara, apabila hamba mengambil istri Tuanku, maka hamba akan terkutuk. sehingga hamba kena itulah ” dan hamba disebut langgana oieh seluruh jagat.

Kemudian berkatalah Sang raja kembali’: ” Hai kamu Tangkas janganlah kamu berpikir demikian, ini adalah perintahku dan engkau hanya melaksanakan “

Karena hal ini merupakan perintah Sang raja, maka istri raja, kemudian diambii oleh Tangkas, lalu di bawa ke Badung, dan sampai di Badung, maka diadakannya suatu upacara perkawinan yang sangat besar, dengan mengundang banyak keluarga

Setelah upacara selesai maka lama kelamaan lahirlah seorang putra laki yang sangat tampan dan gagah perkasa yang diberi nama PANGERAN TANGKAS KORI AGUNG . Oleh karena itu gembiralah wilayah Kertalangu kembali.

Di dalam beberapa sumber menyebutkan bahwa istri raja yang dianugrahkan, kepada Kiyayi Tangkas pada masa mudanya bernama Ni Luh Kayu Mas, yang berasal dari keluarga Bendesa Mas. Lahirlah putra raja yang bemama Pangeran Tangkas Kori Agung di tengah - tengah keluarga Tangkas, maka secara biologis beliau adalah putra raja atau putra dalem. Akan tetapi secara adat, beliau adalah pewaris langsung dari keluarga Tangkas. Setelah Pangeran Tangkas Kori Agung menjadi remaja putra dan beliau sering datang dan menghadap Dalem di Gelgel. Melihat hal ini akbimya Sang raja meminta kepada Pangeran Tangkas Kori Agung, untuk kawin dan mengawini putri dari keturunan Arya Kepasekan, dengan tujuan agar kesatuan rakyat Bali dan keturunan dan Jawa tetap terpelihara, oieh karena Patih Arya Kepasekan adalah patih Bali yang merupakan keturunan langsung dari Arya Kepasekan yang pernah datang ke Mojopahit untuk menghadap kepada Patih Gajah Mada, bersama dengan pembesar Bali lainnya, seperti: Arya Pasek dan Patih Ulung untuk penobatan raja Bali, demi amannya Bali, dari pembrontakan - pembrontakan orang yang tidak puas terhadap Mojopahit. Berkat usaha dari ketiga Maha Patih Bali inilah akhimya Dalem Sri Kresna Kepakisan diorbitkan untuk menjadi raja di Bali, oleh Patih Gajah Mada. Untuk mengenang jasa leluhur dari Arya Kepasekan ini maka diharuskannyalah Pangeran Tangkas Kori Agung, kawin dengan putrinya. Perkawinan antara Pangeran Tangkas Kori Agung dengan Putri Arya Kepasekan, lahirlah seorang putri yang bernama Gusti Ayu Tangkas Kori Agung

Unluk melanjutkan keturunan dan Pangeran Tangkas Kori Agung dan mempererat hubungan dengan Pasek Gelgel. karena Pasek Gelgel berada di Gelgel yang merupakan pusat ibu kota kerajaan Gelgel dan Puri juga berada di Gelgel. Untuk itu demi amannya Puri dikawinkannyalah Gusti Ayu Tangkas Kori Agung dengan Gusti Agung Pasek Gelgel.

Menurut Babad Pasek yang diterjemahkan olch I Gusti Bagus Sugriwa, penerbit Toko Buku Balimas, tahun 1982, halaman 82, maka dijelaskanlah status perkawinan ini sebagai berikut

Hai anakku Gusti Agung Pasok Gelqel, karena engkau suka kepadaku, kini bapak menyerahkan diri kepadamu, oleh karena bapak tidak mempunyai keturunan layi (tidak beranak laki - laki) kini ada seorang anakku perempuan, saudara sepupu olehmu, apabila kamu suka, bapakberilah kepadamu, Gusti Ayu. Danlagi ada harta benda bapak, yaitu isi rumah tangga serba sedikit, pelayan 200 orang, semuanya itu anakku menguasainya. Pendeknya engkau menjadi anak angkatku. Kemudian bapak pulang ke alam baka, supaya anakku menyelesaikan jenazahku. Yang penting permintaanku ialah agar kamu melakukan upacara sebagai Bapak kandungmu sendiri, Dan peringatanku kepadamu, oleh karena dahulu ada permintaan Pangeran Mas kepada leluhur kita yaitu supaya jangan putus turunan - turunan kita dengan sebutan Bendesa; Sebab supaya mudah oleh beliau kelak mengingati turunan - turunan beliau bila ada lahir dan beliau. Kini oleh karena bapak memang berasal dari sana, sebab itu bapak minta kepadamu bila kemudian ada anugrah Tuhan kepadamu terutama kepada bapak, ada anakmu lahir dari sepupumu Ni Luh Tangkas, supaya ada juga yang memakai sebutan Bcndesa Tangkas itu sampai kemudian supaya mudah leluhur kita mengingati turunan turunannya nanti di Sorga. ” ( Babad Pasek oleh 1 Gusti Bagus Sugriwa, Halaman 82, Tahun; 1982 ).

Demikianlah kata - kata yang dikeluarkan oleh Pangeran Tangkas Kori Agung, lalu Ki Gusti Pasek Geigel berunding dengan saudara - saudara sepupu dan mindonnya, akhimya diserujui oleh semuo saudara - saudara Pasek, sehingga akhimya terjadilah perkawinan sesuai dengan permintaan Pangeran Tangkas Kori Agung.

Jadi status perkawinan ini adalah I Gusti Pasek Gelgel selaku sentana yang kawin dengan I Gusti Ayu Tangkas Kori Agung, diupacarai sangat meriah, di rumah Tangkas Kon Agung, yang Juga hadir dalam perjamuan itu semua keluarga 1 Gusti Pasek Geigel, di samping tamu yang lainnya. Dari Perkawinan antara Gusti Ayu Tangkas Kori Agung dengan Gusti Pasek Gelgel, maka dikaruniai 4 ( empat ) orang putra dengan nama yaitu:

  1. Anak yang pertama bernama Pangeran Tangkas Kori Agung.
  2. Anak kedua Bendesa Tangkas.
  3. Anak ketiga Pasek Tangkas.
  4. Anak ke empat, Pasek Bendesa Tangkas Kori Agung.

Demikianlah keturunan Tangkas, yang melanjutkan keluarga Tangkas seterusnya.

Karena keluarga Tangkas terus berkembang dan sangat erat hubungannya dengnn raja dan masyarakat. Maka keluarga Tangkas mendapat tugas - tugas dari raja sebagai berikut:

  1. Tangkas Kori Agung adalah pengawal terdepan dari raja lebih - lebih
  2. Bendesa Tangkas yang merupakan pengawal setia dari raja Dalem Bekung dan ikut berperang melawan Kryan Batan jeruk, yang berontak sehingga Dalem terkepung, dimana Tangkas sebagai pengawal raja terdepan, dengan susah payah berperang dengan pasukan Batan Jeruk,yang akhirnya pemberontakan Batan Jeruk dapat dipadamkan, dan Batan Jeruk meninggal di Bunutan.
  3. Karena jasanya sebagai pengawal terdepan dari raja maka Tangkas diberikan tanda jasa oleh raja berupa:

a.Tangkas tidak boleh dihukum mati.

b.Tidak boleh dirampas artha bendanya.

c.Bila Tangkas harus dihukum mati, maka hukuman mati dapat dilakukan dengan    hukuman buangan selama satu bulan.

d.Bebas pajak.

e.Bila Tangkas harus kena denda lainnya, harus dihapuskan. Jasmat kataku, bila hakim    berani melanggar, semoga terkutuk oleh Tuhan.

f.Melakukan upacara yang ada di Besakih.

Kamis, 25 Desember 2008

Kerajaan Buleleng

Kerajaan Buleleng adalah suatu kerajaan di Bali yang didirikan sekitar pertengahan abad ke-17 dan jatuh ke tangan Belanda pada tahun 1849. Kerajaan ini dibangun oleh I Gusti Anglurah Panji Sakti dari Wangsa Kepakisan dengan cara menyatukan seluruh wilayah wilayah Bali Utara yang sebelumnya dikenal dengan nama Den Bukit.

I Gusti Anglurah Panji Sakti

I Gusti Anglurah Panji Sakti, yang sewaktu kecil bernama I Gusti Gde Pasekan adalah putra I Gusti Ngurah Jelantik dari seorang selir bernama Si Luh Pasek Gobleg berasal dari Desa Panji wilayah Den Bukit. I Gusti Panji memiliki kekuatan supra natural dari lahir. I Gusti Ngurah Jelantik merasa khawatir kalau I Gusti Ngurah Panji kelak akan menyisihkan putra mahkota. Dengan cara halus I Gusti Ngurah Panji yang masih berusia 12 tahun disingkirkan ke Den Bukit, ke desa asal ibunya, Desa Panji.

I Gusti Ngurah Panji menguasai wilayah Den Bukit dan menjadikannya Kerajaan Buleleng, yang kekuasaannya pernah meluas sampai ke ujung timur pulau Jawa (Blambangan). Setelah I Gusti Ngurah Panji Sakti wafat pada tahun 1704, Kerajaan Buleleng mulai goyah karena putra-putranya punya pikiran yang saling berbeda.

Sejarah

Kerajaan Buleleng tahun 1732 dikuasai Kerajaan Mengwi namun kembali merdeka pada tahun 1752. Selanjutnya jatuh ke dalam kekuasaan raja Karangasem 1780. Raja Karangasem, I Gusti Gde Karang membangun istana dengan nama Puri Singaraja. Raja berikutnya adalah putranya bernama I Gusti Paang Canang yang berkuasa sampai 1821.

Perlawanan terhadap Belanda

Pada tahun 1846 Buleleng diserang pasukan Belanda, tetapi mendapat perlawanan sengit pihak rakyat Buleleng yang dipimpin oleh Patih / Panglima Perang I Gusti Ketut Jelantik. Pada tahun 1848 Buleleng kembali mendapat serangan pasukan angkatan laut Belanda di Benteng Jagaraga. Pada serangan ketiga, tahun 1849 Belanda dapat menghancurkan benteng Jagaraga dan akhirnya Buleleng dapat dikalahkan Belanda. Sejak itu Buleleng dikuasai oleh pemerintah kolonial Belanda.

Masuknya Agama Hindu

Berakhirnya zaman prasejarah di Indonesia ditandai dengan datangnya bangsa dan pengaruh Hindu. Pada abad-abad pertama Masehi sampai dengan lebih kurang tahun 1500, yakni dengan lenyapnya kerajaan Majapahit merupakan masa-masa pengaruh Hindu. Dengan adanya pengaruh-pengaruh dari India itu berakhirlah zaman prasejarah Indonesia karena didapatkannya keterangan tertulis yang memasukkan bangsa Indonesia ke dalam zaman sejarah. Berdasarkan keterangan-keterangan yang ditemukan pada prasasti abad ke-8 Masehi dapatlah dikatakan bahwa periode sejarah Bali Kuno meliputi kurun waktu antara abad ke-8 Masehi sampai dengan abad ke-14 Masehi dengan datangnya ekspedisi Mahapatih Gajah Mada dari Majapahit yang dapat mengalahkan Bali. Nama Balidwipa tidaklah merupakan nama baru, namun telah ada sejak zaman dahulu. Hal ini dapat diketahui dari beberapa prasasti, di antaranya dari prasasti Blanjong yang dikeluarkan oleh Sri Kesari Warmadewa pada tahun 913 Masehi yang menyebutkan kata "Walidwipa". Demikian pula dari prasasti-prasasti Raja Jayapangus, seperti prasasti Buwahan D dan prasasti Cempaga A yang berangka tahun 1181 Masehi.

Di antara raja-raja Bali, yang banyak meninggalkan keterangan tertulis yang juga menyinggung gambaran tentang susunan pemerintahan pada masa itu adalah Udayana, Jayapangus , Jayasakti, dan Anak Wungsu. Dalam mengendalikan pemerintahan, raja dibantu oleh suatu Badan Penasihat Pusat. Dalam prasasti tertua 882 Masehi–-914 Masehi badan ini disebut dengan istilah "panglapuan". Sejak zaman Udayana, Badan Penasihat Pusat disebut dengan istilah "pakiran-kiran i jro makabaihan". Badan ini beranggotakan beberapa orang senapati dan pendeta Siwa dan Budha.

Di dalam prasasti-prasasti sebelum Raja Anak Wungsu disebut-sebut beberapa jenis seni yang ada pada waktu itu. Akan tetapi, baru pada zaman Raja Anak Wungsu, kita dapat membedakan jenis seni menjadi dua kelompok yang besar, yaitu seni keraton dan seni rakyat. Tentu saja istilah seni keraton ini tidak berarti bahwa seni itu tertutup sama sekali bagi rakyat. Kadang-kadang seni ini dipertunjukkan kepada masyarakat di desa-desa atau dengan kata lain seni keraton ini bukanlah monopoli raja-raja.

Dalam bidang agama, pengaruh zaman prasejarah, terutama dari zaman megalitikum masih terasa kuat. Kepercayaan pada zaman itu dititikberatkan kepada pemujaan roh nenek moyang yang disimboliskan dalam wujud bangunan pemujaan yang disebut teras piramid atau bangunan berundak-undak. Kadang-kadang di atas bangunan ditempatkan menhir, yaitu tiang batu monolit sebagai simbol roh nenek moyang mereka. Pada zaman Hindu hal ini terlihat pada bangunan pura yang mirip dengan pundan berundak-undak. Kepercayaan pada dewa-dewa gunung, laut, dan lainnya yang berasal dari zaman sebelum masuknya Hindu tetap tercermin dalam kehidupan masyarakat pada zaman setelah masuknya agama Hindu. Pada masa permulaan hingga masa pemerintahan Raja Sri Wijaya Mahadewi tidak diketahui dengan pasti agama yang dianut pada masa itu. Hanya dapat diketahui dari nama-nama biksu yang memakai unsur nama Siwa, sebagai contoh biksu Piwakangsita Siwa, biksu Siwanirmala, dan biksu Siwaprajna. Berdasarkan hal ini, kemungkinan agama yang berkembang pada saat itu adalah agama Siwa. Baru pada masa pemerintahan Raja Udayana dan permaisurinya, ada dua aliran agama besar yang dipeluk oleh penduduk, yaitu agama Siwa dan agama Budha. Keterangan ini diperoleh dari prasasti-prasastinya yang menyebutkan adanya mpungku Sewasogata (Siwa-Buddha) sebagai pembantu raja.

Rabu, 01 Oktober 2008

Sejarah Agama Hindu


Munculnya Peradaban Lembah

n      Dimulai dari tahun 2500-1700 SM.

n      Didirikan oleh bangsa Troya.

n      Meluas dari lembah sungai indus ke lembah sungai Ghaggar-hakra, lembah sungai Gangga, Gujarat, Delhi dan bagian utara Afganistán.

n      Peradaban sungai indus sendiri berpusat di Mohenjo-daro dan Harappa (yang sekarang adalah Pakistan) dan Dholavira.

n      Peradaban ini ada sebelum adanya kitab-kitab agama Hindu (weda)

Peradaban Mohenjodaro dan Harappa

n      Dua kota ini diperkirakan ditempati oleh bangsa Dravida

n      Memiliki tata kota yang cukup sempurna, dimana telah ada sistem irigasi yang bagus, pembangkit listrik dan tempat pusat pemerintahan.

n      Tingkat kepadatan penduduk di masing-masing kota itu pernah mencapai 30 hingga 40 ribu penduduk.

n      Kota ini dibagi menjadi 2 bagian, bagian administratif dan bagian pemerintahan.

n      Bagian pemerintahan: pusat pemerintahan masing-masing kota, terletak terpisah dari pemukiman penduduk.

n      Bagian administratif: daerah pemukiman penduduk, dimana terjadi kegiatan ekonomi disana.

n      Masyarakat pada masa itu sudah mulai mengenal teknologi sederhana, dibuktikan dengan adanya penggunaan kapak, barang-barang dari perunggu, alat pemintal dan penenun wol dan cotton.

n      Mereka juga pernah menjalankan perdagangan antarabangsa dengan bandar Ur di Mesopotamia. [ditemukannya benda-benda dari India di Mesopotamia].

n      Masyarakat pada saat itu sangat mudah berasimilasi atau menerima kebudayaan baru dari luar.

Sistem Kepercayaan Sebelum Invasi Bangsa Arya

n      Masyarakat ini memiliki kepercayaan animisme.

n      Mereka menyembah binatang, terutama lembu yg. dianggap suci dan batu.

n      Penemuan topeng dan patung membuktikan bahwa masyarakat Indus menyembah Dewa Siva(Pashupati) dan Dewi Shakti (Mother Goddess) yang bermuka tiga.

n      Penemuan sebutir batu hitam digelar 'lingga' yang menyerupai Dewa Siva.

n      Mereka tidak membuat kuil, sebaliknya upacara keagamaan akan diadakan di rumah.

n      Mereka menjalankan ritual pemakaman dan pembakaran mayat dijalankan dan abu mayat akan dibuang ke sungai.

n      Hingga tahun 1500 SM, kedatangan Bangsa Arya akan membawa masuk ajaran polytheisme.

Kehancuran Peradaban Mohenjodaro dan Harappa

n      Mulai terjadi penurunan peradaban sekitar tahun 1800 SM.

n      Belum diketahui pasti penyebab penurunan ini, tetapi diperkirakan karena adanya bencana alam dan perubahan iklim.

n      Kedatangan Bangsa Arya ke mohenjodaro dan harappa pada saat terjadi penurunan kebudayaan pada tahun 1500 SM.

Dominasi Bangsa Arya

n      Bangsa Arya adalah bangsa nomaden yang berasal dari Asia tengah.

n      Bangsa Arya memasuki India melalui Celah Khaibar.

n      Pada saat kedatangannya, Bangsa Arya langsung dapat mengambil alih pusat pemerintahan di sekitar sungai indus, yamuna dan sungai gangga.

n      Hal itu terjadi karena sifat alami masyarakat pada saat itu adalah sangat terbuka terhadap kebudayaan luar, mereka dapat dengan mudah menerima budaya baru dan berasimilasi dengannya.

n      Ditambah dengan kemunduran peradaban yang terjadi pada masa itu.

n      Jadilah Bangsa Arya mendirikan peradaban baru di sana.

n      Tidak keterangan yang jelas tentang nasib bangsa-bangsa yang tempatnya di ambil alih oleh Bangsa Arya

  • Ada yang mengatakan mereka berpindah tempat seiring dengan kedatangan Bangsa Arya dan pergeseran aliran-aliran sungai di India.
  • Ada juga yang mengatakan bahwa mereka tidak sama sekali berpindah, mereka malah bekerja sama dengan Bangsa Arya tersebut.
  • Ada juga yang mengatakan bahwa mereka akhirnya tinggal di bukit-bukit di bagian utara India.

Peninggalan Peradaban Mohenjodaro dan Harappa

n      Reruntuhan perkotaan yang tertata sangat teratur dengan sistem irigasi yang nyaris sempurna. Dengan tata kota:

            a. Rumah-rumah dibangun di tepi jalan raya. Semua pintu rumah menghadap ke jalan raya.

            b. Jalan-jalan di kota teratur dan lurus. Lebar jalan 10 meter dan dibuat semacam trotoar sekitar 0,5 meter.

            c. Wilayah kota dibagi menjadi blok-blok berbentuk bujur sangkar atau persegi panjang. Blok-blok terbagi menjadi lorong-lorong yang saling memotong sehingga udara leluasa bertiup.

            d. Adanya saluran air yang mengalir di bawah jalan dan langsung menuju ke sungai.

            e. Kamar-kamar di rumah penduduk dilengkapi jendela yang lebar sehingga sirkulasi udara lancar.

            f. Saluran pembuangan limbah dari kamar mandi dan jamban dihubungkan langsung dengan jaringan saluran umum.

            g. Bangunan yang terdapat di dalam benteng bermacam-macam yaitu; kolam pemandian umum dilengkapi pipa-pipa air, gudang gandum, tempat bermusyawarah dan tempat pemujaan. Selain itu ada tempat peleburan logam dan tempat menenun kain.

n      Tulisan bercorak piktografis

n      Patung-patung yang menunjukkan adanya pemujaan terhadap dewa atau dewi tertentu.

Vedic Period

n      Dimulai sejak kedatangan Bangsa Arya ke India

n      Bangsa Arya lah yang dipercaya sebagai bangsa yang pertama kali membawa kitab suci weda (berisikan lagu-lagu pemujaan kepada dewa-dewi, pengorbanan-pengorbanan untuk dewa-dewi dan ramalan-ramalan masa depan).

n      Pada tahun 800 SM, Bangsa Arya telah dapat mengambil alih pemerintahan di bagian utara India.

n      Pada masa inilah sistem kasta dikenal.

            1. Brahmana (pendeta)

            2. Ksatria (bangsawan)

            3. Waisya (petani dan pedagang)

            4. Sudra (pelayan dan pesuruh)

Isi Kitab Weda

n      Pada masa itu, kitab weda yang merupakan kitab suci agama Hindu berisikan lebih banyak informasi tentang Bangsa Arya.

n      Dewa-dewi utama dalam agama Hindu.

n      Ritual- ritual keagamaan (meliputi ritual kelahiran, pernikahan, kematian).

n      Tradisi-tradisi masyarakat India pada masa itu.

n      Cerita dan literatur-literatur kuno (seperti Mahabrata dan Upanishads).

Cerita Mahabrata

n      Sebuah karya sastra kuno yang konon ditulis oleh Begawan Byasa atau Vyasa dari India.

n      Buku ini terdiri dari delapan belas kitab, maka dinamakan Astadasaparwa (asta = 8, dasa = 10, parwa = kitab).

n      Dikumpulkan semenjak abad ke-4 sebelum Masehi.

n      Kisah konflik para Pandawa lima dengan saudara sepupu mereka sang seratus Korawa, mengenai sengketa hak pemerintahan tanah negara Astina.

n      Puncaknya adalah perang Bharatayuddha di medan Kurusetra dan pertempuran berlangsung selama delapan belas hari.

n      Ditulis dalam bahasa Sansekerta

n      Menceritakan perang, yang dipercaya merupakan perang nuklir, dengan bukti:

n      1. Arkeolog menemukan banyak sekali puing-puing yang telah menjadi batu hangus di atas hulu sungai.

n      2. Batu yang besar-besar pada reruntuhan ini dilekatkan jadi satu, permukaannya menonjol dan cekung tidak merata. Jika ingin melebur bebatuan tersebut, dibutuhkan suhu paling rendah 1.800 C, hanya pada ledakan nuklir baru bisa mencapai suhu yang demikian.

n      3. Di dalam hutan primitif di pedalaman India, orang-orang juga menemukan lebih banyak reruntuhan batu hangus.

n      4. Tembok kota yang runtuh dikristalisasi, licin seperti kaca, lapisan luar perabot rumah tangga yang terbuat dari batuan di dalam bangunan juga telah dikacalisasi.

n      5. Para ahli menemukan bahwa pada puing-puing maupun sisa-sisa tengkorak manusia yang ditemukan di Mohenjodaro mengandung residu radio-aktif yang hanya bisa dihasilkan lewat ledakan Thermonuklir skala besar.

n      6. Dalam sebuah seloka mengenai Mahabrata, diceritakan dengan kiasan sebuah senjata penghancur massal yang akibatnya mirip sekali dengan senjata nuklir masa kini.

Perang di Kurukshetra (Dalam Kisah Mahabrata)

n      Waktu terjadinya perang telah dicoba dihitung dengan menggunakan banyak cara, mulai dari perhitungan bulan, hingga analisa radiokarbon, tetapi masih belum dapat dipastikan waktu terjadinya perang tersebut:

 

            1. Dr. S. Balakrishna menyatakan bahwa perang tersebut terjadi tahun 2559 SM dengan memperhitungkan gerhana bulan.

            2. Prof. I.N. Iyengar memperkirakan perang tersebut terjadi tahun 1478 SM dengan memperhitungkan gerhana dan garis lurus planet Saturnus+Jupiter.

            3. Dr. B.N. Achar menyatakan bahwa perang tersebut terjadi tahun 3067 SM dengan memperhitungkan posisi planet-planet yang dicantumkan dalam Mahabharata.

Perang di Kurukshetra (Dalam Kisah Mahabrata)

n      Dengan perang ini, dapat dibuktikan bahwa pada masa itu, masyarakat sudah mengenal strategi perang yang baik, dengan adanya:

            a. Pembagian divisi militer dan persenjataan.

            b. Formasi militer

            c. Aturan perang, diantaranya:

n      Tidak boleh membunuh atau melukai prajurit yang tidak bersenjata.

n      Tidak boleh membunuh atau melukai prajurit yang dalam keadaan tidak sadar.

n      Tidak boleh membunuh atau melukai seseorang atau binatang yang tidak ikut berperang.

n      Tidak boleh membunuh atau melukai prajurit dari belakang.

Agama Buddha

n      Agama Buddha adalah agama yang benar-benar berasal dari India.

n      Dilambangkan dengan patung Sang Buda yang duduk bersila di atas bunga teratai, bertapa untuk bisa mencapai kesucian.

n      Banyak mengajarkan norma-norma untuk saling mengasihi sesama manusia.

n      Sangat berkembang di masa Dinasti Maurya, walaupun bukan agama kerajaan pada masa itu, AShoka membangun banyak kuil yang memiliki arsitektur yang indah sebagai tempat mengajarkan agama Buda.

n      Lambang dari negara India (berbentuk singa) diambil dari salah satu pilar yang ada pada kuil buatan Ashoka tersebut.

Zaman Kerajaan

n      Mulai pada abad ke-7 SM, banyak daerah-daerah di India yang berkembang dan bersatu, kemudian membentuk banyak kerajaan.

n      Mencakup wilayah dari Afghanistan hingga Bihar.

n      Mulai diajarkan cara-cara menulis pada masyaarakat di kuil-kuil.

n      Pada masa itu, kepercayaan Hindu yang sangat berkembang pada vedic period, sempat berkembang menjadi beberapa agama lain.

n      Kuil-kuil pada masa itu dijadikan sekolah.

n      Terbagi menjadi 2 agama, Buda dan Jainisme.

n      Pusat pemerintahan pada masa itu terletak di bagian timur lembah sungai Gangga (yang sekarang di kenal dengan nama bihar).

n      Kerajaan pertama yang cukup besar bernama Kerajaan Magadha (yang terus bertahan sampai abad ke-4 SM).

Kerajaan Maurya

n      Kerajaan ini berawal pada abad ke-6 SM.

n      Awalnya merupakan kerajaan-kerajaan kecil

n      Kerajaan-kerajaan di India Utara pada masa ini menghadapi ancaman serangan dari orang Yunani.

n      Kemudian bersatu dibawah pimpinan Chandragupta Maurya untuk mengatasi masalah ini setelah berhasil mengalahkan Kerajaan Magadha.

n      Penyatuan ini menghasilkan pembentukkan Kerajaan Maurya yang terbentang dari Teluk Bengal ke Pergunungan Hindu Kush.

n      Ibu kotanya terletak di Pataliputra.

n      Puncak perluasan Kerajaan Maurya tercapai di bawah pimpinan Asoka (273-232 SM) yaitu oleh Maharaja Maurya teragung.

n      Kerajaan ini meliputi hampir seluruh India kecuali bagian selatan yang dipimpin oleh Bangsa Dravida.

n      Kematian Asoka pada tahun 232 SM melemahkan Kerajaan Maurya.

n      Kerajaan kecil mengambil alih pemerintahan dan akhirnya kerajaan ini benar-benar jatuh pada tahun 185 SM.

Kerajaan-Kerajaan Setelah Kerajaan Maurya

n      Sebenarnya, pada tahun 180 SM, Bangsa Yunani sudah mulai menguasai sedikit bagian Barat Laut India.

n      Setelah kehancuran Kerajaan Maurya, mulailah raja yunani, Menander, memperluas kekuasaaanya ke bagian utara India.

n      Terjadi pengambil alihan kekuaasan oleh Kerajaan Sunga, yang merupakan kerajaan terkuat setelah hancurnya Kerajaan Maurya pada 185 SM (pengambilan kekuasaan ini belum dapat mencakup seluruh bagian India).

n      Beribu kota di bagian utara India.

n      Yang kemudian berpindah lagi ke Dinasti Andhra pada tahun 28 SM, setelah berhasil mengalahkan Kerajaan Sunga.

n      Memindahkan ibu kotanya ke bagian selatan India.

Kerajaan-Kerajaan Setelah Kerajaan Maurya

n      Kemudian selama ± 4 abad (hingga abad ke-3 M) ada beberapa pembagian kekuasaan di India.

            a. Bagian selatan dan tengah dikuasai oleh Dinasti Andhra.

            b. Bagian tenggara dikuasai oleh Maha-Meghavahanas.

            c. Bagian barat daya dan sedikit bagian selatan dikuasai oleh Chola dan Pandya.

n      Pemegang kekuasaan terluas terakhir  adalah Kushanas yang berasal dari Asia Tengah.

n      Kerajaannya meluas dari Afhanistan hingga bagian timur Uttar Pradesh, termasuk di dalamnya Gujarat dan India bagian tengah.

n      Dia pun turut mengembangkan ajaran Buddha di India.

n      Dia dikenal sebagai 1 dari 4 orang dalam agama Buddha yang mengembangkan ajaran Buddha Mahayana.

n      Pada masanya, Buddha menyebar hingga Asia tengah, Asia Tenggara dan China.

n      Pada masanya pula, barang-barang seni India (terutama patung Buddha) meluas ke berbagai tempat.

Peninggalan Kebudayaan India Kuno

n      Kepercayaan:

            1. Hindu

            2. Buddha

            3. Jainisme

n      Sastra :

            1. Cerita Mahabrata yang sangat terkenal bahkan dianggap suci oleh penganut ajaran Hindu.

            2. Cerita Ramayana.

Peninggalan Kebudayaan India Kuno

n      a. Seni arsitektural, dengan ciri-ciri yang menonjol:

            1. Bangunannya memiliki skala yang besar.

            2. Dapat dikatakan bersifat gigantik.

            3. Menggunakan corak dan hiasan yang bersifat sangat mendetail dengan gambar hewan, tumbuhan, manusia atau monster yang memiliki makna-makna khusus.

            4. Bangunan yangdibuat memiliki kubah yang bertingkat.

            5. Biasanya bangunan menggunakan material yang berasal dari batu corbelet.

 

 

Jumat, 29 Agustus 2008

Tujuan Manusia Menurut Agama Hindu

Catur Purusartha
Dhrama Tujuan manusia menurut agama Hindu disebut Catur Purusartha (empat tujuan akhir). Tujuan hidup yang pertama adalah dharma. Sebagaimana telah dijelaskan didepan, dharma berarti agama atau kewajiban. Pertama-tama manusia haruslah menjadi manusia beragama. Beragama berarti hidup bermoral. Hidup bermoral merupakan landasan bagi tujuan tujuan hidup berikutnya.
Artha
Tujuan hidup kedua adalah Artha. Artha artinya materi atau secara sempit disebut uang, secara luas artha diartikan sebagai keberhasilan atau kesuksesan. Untuk hidupnya manusia memerlukan materi. Tanpa materi bagaimana kita menyelenggarakan kehidupan rumah tangga, pendidikan dan kewajiban- kewajiban agama? Tapi materi atau kesuksesan itu harus dicapai berdasarkan landasan agama dan dipergunakan sesuai dengan moral agama.
Kama
Tujuan hidup yang ketiga adalah Kama. Kama dalam arti sempit dimaksudkan kesenangan karena aktivitas seksual. Aktivitas seksual pertama-tama berfungsi sebagai prokreasi (regenerasi dan penerusan keturunan). Kedua aktivitas seksual berfungsi rekreasi (re=kembali, kreasi=menciptakan), peneguhan (kembali) hubungan cinta kasih antara suami dan isteri. Sekali lagi, kama harus dilandasi oleh dharma. Hubungan seksual itu harus dilakukan dalam kerangka perkawinan yang sah. Dalam arti luas kama juga mencakup kesenangan-kesenangan yang lain, misalnya yang ditimbulkan oleh keindahan dan seni.
Keseimbangan Jiwa dan Raga
Sebagaimana dikatakan dalam bahasan sebelumnya (Atman : Jiwa yang Kekal), manusia terdiri dari dua aspek yang saling melingkupi, yaitu badan dan jiwa. Masing-masing aspek ini, memiliki kebutuhan-kebutuhan tertentu. Artha dan kama (lebih) merupakan tujuan dari raga dan badan kita. Sedangkan dharma dan moksha merupakan tujuan dari jiwa kita.
Jadi kebutuhan raga dan jiwa kita harus dipenuhi secara seimbang. Agama Hindu sama sekali tidak mengajarkan pemeluknya untuk mengabaikan dunia. Tapi agama Hindu juga tidak mengajarkan kita hanya memikirkan dunia. Tujuan kita yang tertinggi yaitu moksha dicapai melalui perjalanan kita dalam kehidupan didunia ini. Jadi dapat dikatakan ketiga tujuan di atas, yaitu dharma, artha dan kama, merupakan tangga bagi tujuan hidup yang terakhir yaitu moksha. Bagaimana kita memperoleh ketiga tujuan ini, bagaimana kita mempergunakan artha dan kama akan menentukan apakah kita akan mencapai tujuan tertinggi itu atau tidak.
Surga adalah Persinggahan Sementara.
Dalam agama Hindu surga merupakan persinggahan sementara. Menurut Swami Dayananda Saraswati, surga adalah pengalaman liburan. Seperti seorang pergi ke Hawai atau ke Bali untuk bersenang-senang sebentar membelanjakan uangnya dan kemudian kembali ke rumahnya.
Bagavad Gita mengatakan : "Setelah menikmati surga yang luas, mereka kembali kedunia ini sesuai ajaran kitab suci. Demi kenikmatan mereka datang dan pergi".
Surga adalah kesenangan sementara (pleasure). Sedangkan kebahagiaan yang sejati (Joy atau happiness) adalah Moksha.
Apakah Moksha?
Menurut Radhakrisnan moksha adalah kelepasan, lepas dari ikatan panca indera dan prinbadi, kepicikan dan keterikatan. Moksha merupakan hasil dari perluasan pribadi dan kebebasan atau kemerdekaan.
K. B. Bahadur menjelaskan moksha adalah kemerdekaan dan kebebasan, terlepasnya jiwa dari rangkaian kelahiran dan kematian. Moksha merupakan tujuan tertinggi setiap orang.
Moksha adalah hidup tak terbatas, pengetahuan tak terbatas dan kebahagiaan tak terbatas. Pembebasan manusia dari segala keterbatasan. Moksha disebut juga jivan-mukti, atau kebahagiaan jiwa yang tiada terbatas. 7). Dalam Upanishad dikatakan moksha adalah persatuan jiwa (roh) dengan Tuhan (Brahman) ibarat sungai yang mengalir ke laut dan kemudian bersatu dengan laut. Upanishad mengatakan : "Temukan kebahagiaan pada kelepasan" (Isa Upanishad); "Tuhan yang Esa yang tak terbatas adalah sumber kebahagiaan (yang terbatas)". (Chandogya Upa). "Moksha atau kebebasan adalah tinggal dalam wujud-Nya yang abadi (Maha). Apa yang dimaksud dengan pernyataan- pernyataan diatas?, Ia tampak sebagai ramuan-ramuan abstrak? Sulit bagi kita untuk membayangkan kebahagiaan yang dimaksudkan dalam moksha.
Di dunia ini kita merasa bahagia bila karir kita sukses. Hubungan suami istri dan hidup rumah tangga kita tidak mengalami gangguan. Anak-anak kita sehat dan cerdas. Apakah ada kebahagiaan tanpa kesenangan seksual, kenikmatan lidah karena memakan buah atau minuman arak yang lesat? Kenikmatan seksual dan kenikmatan lidah karena makanan atau minuman bersifat badani. Karena itu bersifat sementara. Kenikmatan seksual hanya terasa selama aktivitas seksual itu berlangsung. Setelah aktivitas ini selesai, habis juga kenikmatan itu. Kenikmatan karena makanan dan minuman juga terjadi hanya selama kegiatan makan dan minum itu berlangsung. Setalah kegiatan ini selesai, habis juga kesenangannya. Kebahagiaan yang sejati dan abadi tidak tergantung kepada aktivitas badani. Ia bersifat spiritual yang disebabkan oleh kehadiran Yang Suci.
Pengalaman Orang-orang yang Pernah "Mati".
Dokter Raymond A. Moody, Jr, seorang psikiater telah mengadakan penelitian tentang orang-orang yang pernah dinyatakan mati kemudian hidup kembali (near death experience atau mati suri). Pengalaman- pengalaman dari orang- orang yang pernah mengalami kematian seperti ini dikumpulkannya dalam bukunya yang terkenal "Life After Life" telah diterjemahkan dalam bahasa Indonesia menjadi "Hidup Sesudah Mati", diterbitkan oleh PT Gramedia.
Seseorang sedang menghadapi maut, pada saat ia mencapi puncak krisis fisiknya, ia mendengar ia dinyatakan mati oleh dokternya. Pada saat itu ia merasa dirinya bergerak dengan cepat melalui suatu terowongan yang gelap dan panjang. Setelah itu ia merasa tiba-tiba berada di luar jasadnya, tapi masih tetap dalam lingkungn yang sama. Ia melihat jasadnya dari satu jarak, seolah-olah ia seorang penonton. Ia menyaksikan usaha-usaha (dokter dan perawat) untuk menghidupkannya kembali. Tak lama kemudian ia melihat arwah saudara- saudara dan kawan-kawannya yang sudah meninggal, dan suatu mahluk cahaya yang penuh kehangatan dan cinta kasih belum pernah ditemuinya muncul dihadapannya. Sebelumnya mahluk tersebut meminta ia menilai kehidupannya dan membantunya dengan menunjukkan kilasan kejadian-kejadian penting dalam hidupnya secara tiba-tiba. Pada suatu saat ia merasa sampai pada satu batas dan ia harus kembali.Tapi ia tak ingin kembali. Di tempat baru ini ia ditemui oleh rasa gembira cinta dan kedamaian yang meluap-luap. Meskipun demikian, entah bagaimana ia bersatu kembali dengan jasadnya, dan ia hidup.
Inilah pengalaman dari orang-orang yang pernah mengalami kematian lalu hidup lagi:
"Semua rasa sakit musnah" "Ada rasa damai dan tenang yang mutlak. Tak ada rasa takut sama sekali" "Setelah aku kembali, aku terus menerus menangis selama kurang lebih seminggu karena aku harus hidup di dunia ini setelah aku melihat dunia yang satu lagi".
Berikut ini kita kutipkan pernyataan-pernyataan mereka secara lengkap.
"Pada saat terluka aku merasakan suatu perasaan sakit yang sangat hebat. Tapi kemudian semua rasa sakit lenyap. Hari terasa dingin, namun demikian sementara saya berada dalam tempat gelap itu saya merasakan kehangatan dan suatu perasaan senang tiada taranya yang pernah saya alami sebelumnya".
Seorang wanita yang bernafas kembali setelah serangan jantung menuturkan:
"Saya mengalami perasaan yang sangat menyenangkan. Saya tidak merasakan perasaan lain kecuali kedamaian, kesenangan, hanya ketenangan. Saya merasa semua kesulitan saya hilang dan saya berkata kepada diri saya sendiri". "Alangkah tenang dan damainya, dan saya tidak merasa sakit sama sekali".
Seorang laki-laki yang lain menceritakan:
"Saya merasa kesunyian dan damai yang amat menyenangkan. Pengalaman itu sangat indah, dan saya merasakan kedamaian dalam hatiku".
Seorang pria yang "mati" setelah terluka dalam perang vietnam mengatakan ia merasakan : "suatu perasaan lega yang luar biasa.Tak ada rasa sakit dan aku belum pernah merasa begitu santai. Aku merasa ketentraman dan semua begitu indah".
Seorang wanita menuturkan :
"Saya menunggu tante saya yang sudah tua selama sakitnya yang terakhir. Saya membantu merawatnya dan pada waktu itu semua anggota keluarga berdo'a untuk kesembuhannya. Nafasnya berhenti beberapa kali tapi kemudaian ia hidup lagi. Akhirnya satu hari ia melihat saya dan berkata: "Joan, saya sudah ada di dunia sana, dan disana indah sekali. Saya ingin tinggal disana, tapi saya tidak bisa selama kamu berdoa agar saya kembali kesini bersama kalian. Doa kalian membuat saya tetap tinggal di sini. Tolonglah jangan berdoa lagi". Kami semua memenuhi permintaannya berhenti berdoa, dan tak lama kemudian ia meninggal".
Dalam bagian lain Dr. Raymond A. Moody, Jr. menjelaskan:
Bahkan mereka yang sebelumnya memiliki keyakinan tradisional tentang kehidupan sesudah mati tampaknya mulai sedikit berubah dengan keyakinannya semula setelah mereka mengalami "kematian" itu. Sesungguhnya dalam semua laporan yang saya kumpulkan tidak seorangpun dari mereka melukiskan gambaran mithological tentang apa yang terdapat pada kehidupan di dunia setelah mati itu. Tidak seorangpun menjelaskan surga para kartunis yang gerbangnya penuh permata, jalan-jalan yang dibuat dari emas, dan malaikat-malaikat bersayap yang memainkan harpa, tidak ada neraka dengan api berkobar-kobar dan setan-setan dengan garpu penyiksa.
Allan Pring yang pernah mendapat pengalaman melihat "dunia lain" mengatakan : "Disana tidak ada seks, uang atau apapun yang berbau nafsu".
Jika tidak ada neraka, lalu bagaimana dengan konsep ganjaran dan hukuman yang diajarkan oleh agama-agama? Apakah semua orang, tanpa memperhatikan perbuatannya di dunia ini akan memperoleh kebahagiaan di akhirat?.
Kemungkinan orang-orang yang pernah mengalami "kematian" yang diselidiki oleh Dr. Raymond A. Moody adalah orang-orang yang pada umumnya telah berbuat baik di dunia. Sebab dalam buku itu juga diceritakan bahwa orang-orang yang mencoba bunuh diri, "mati" lalu hidup kembali mengalami keadaan yang sama sekali tidak menyenangkan.
Penjelasan lainnya adalah bahwa orang-orang yang melakukan perbuatan-perbuatan buruk, akan mendapat penderitaan dalam kelahirannya kembali di dunia ini.

Sabtu, 02 Agustus 2008

Menemukan Kebahagiaan dalam Diri

Setiap orang memiliki pendapat dan definisi yang berbeda tentang kebahagiaan. Untuk lebih memudahkan saya mencoba untuk membagi ke dalam 3 macam tipe manusia yang mendefinisikan arti bahagia.Tipe I adalah orang yang mengatakan bahwa dirinya akan merasa bahagia jika apa yang telah lama diinginkannya dapat tercapai. Biasanya orang tipe I ini mengapresiasikan kebahagiaan dengan banyaknya benda – benda material yang dapat dimiliki (materialism). Misalnya orang tipe I ini akan merasa bahagia jika ia dapat memiliki sebuah rumah mewah dan megah dan tinggal di dalamnya, atau ia akan merasa bahagia jika dapat memiliki banyak mobil mewah. Dengan kata lain manusia tipe I ini akan merasa bahagia jika ia memiliki banyak uang sehingga bisa membeli apa pun yang ia inginkan.Sedangkan manusia dengan tipe II adalah mereka yang merasa bahagia jika mereka dapat meraih kesuksesan. Kesuksesan yang diperolehnya ini bisa berupa kesuksesan dalam studi maupun karier. Manusia bertipe II ini tidak terlalu menilai kesuksesan ini dengan banyaknya materi yang diperoleh, tetapi lebih memfokuskan diri untuk meraih keberhasilan (achievements) dalam segala bidang yang ditekuninya. Di samping itu ada juga manusia yang merasa bahagia jika ia dapat bersama dengan seseorang yang ia cintai, atau dengan kata lain telah menemukan cinta sejatinya dan membentuk keluarga yang bahagia (loving and fulfilling relationship). Manusia dengan ciri seperti ini saya masukkan ke dalam tipe III.Selain ketiga tipe manusia yang baru saja saya sebutkan di atas, masih ada lagi tipe manusia lain yang mendefinisikan arti bahagia. Namun sebagian besar, manusia mengatakan bahwa ia akan merasa bahagia jika telah mendapatkan hal-hal tersebut di atas.Mengapa Kebahagiaan Sulit Didapatkan ?Di dunia ini, kita banyak menjumpai orang yang merasa tidak bahagia. Setelah ditelusuri, orang – orang tersebut memiliki alasan yang berbeda-beda mengapa mereka merasa tidak bahagia. Ada yang mengatakan bahwa mereka tidak bahagia karena mereka selalu hidup dalam kekurangan, ada pula yang merasa tidak bahagia karena belum menemukan pasangan hidup yang tepat, ada pula yang tidak dapat menemukan kebahagiaan dalam keluarganya karena tidak adanya keharmonisan dalam keluarga tersebut. Atau dengan kata lain mereka tidak berhasil mendapatkan apa yang mereka dambakan atau impikan.Selain itu, kita juga banyak menemukan orang yang tidak pernah puas dengan apa yang telah diperoleh atau dimilikinya, sehingga apabila orang tersebut telah berhasil meraih sesuatu, ia tidak pernah sempat untuk menikmati kebahagiaan dengan apa yang telah diperolehnya itu dan kemudian membuat target baru untuk dicapainya, dan begitu seterusnya. Dan orang ini akan selalu merasa cemas apabila tujuan berikutnya tidak tercapai. Hal lain mengapa manusia tidak dapat merasakan kebahagiaan adalah karena manusia cenderung untuk merenungi nasib buruk yang telah menimpanya dan tidak mau berbuat sesuatu untuk memperbaikinya. Mereka terlalu terpaku pada hal yang telah berlalu dan tidak dapat melupakan masa lalunya yang pahit. Padahal jika ia mau mencoba untuk keluar dari masa lalunya yang kelam, ia kemungkinan besar masih dapat menemukan kebahagiaan.Satu hal lagi yang tidak kalah pentingnya adalah kecenderungan manusia untuk berbuat mengikuti kata hati dan hawa nafsunya yang sering menjerumuskan manusia ke dalam dosa dan menyebabkan manusia itu terjerumus dalam lembah kesedihan.Dosa manusia saya kelompokkan menjadi 7 macam yang merupakan dosa bawaan yang pada dasarnya terdapat dalam diri setiap pribadi. Dosa-dosa tersebut yaitu hawa nafsu, serakah, egois, iri hati,mudah tergoda, suka menyimpan dendam, dan emosional.Semua perbuatan dosa tersebut seringkali membuat manusia tidak dapat merasakan kebahagiaan dalam dirinya.
Bahagia vs Tidak Bahagia Berikut saya akan coba untuk memaparkan beberapa kisah orang yang berbahagia terlebih dahulu. Kisah pertama adalah kisah tentang seorang pria yang sejak muda selalu berusaha menemukan kebahagiaan dari dalam dirinya dengan cara melalui meditasi. Untuk itu ia mencari tempat-tempat yang sepi dan kemudian mendalami kemampuan meditasinya. Sejalan dengan berlalunya waktu, kemampuan meditasinya meningkat sampai suatu saat ia berhasil menemukan kebahagiaan sempurna ketika sedang bermeditasi di bawah pohon Budhis dan mendapatkan pencerahan. Orang tersebut dikenal dengan nama Budha Gautama yang kemudian menjadi pelopor lahirnya agama Budha. Kisah yang lain adalah kisah seorang pria yang setiap harinya sibuk dengan pekerjaannya. Siang malam ia bekerja dengan keras, seringkali ia merelakan waktu istirahatnya, merelakan waktu rekreasi bersama dengan istri dan anak-anaknya dan kurang perhatian terhadap kehidupan sosial di lingkungan sekitarnya. Sehingga yang ia fokuskan adalah hanya pada pekerjaannya. Pada suatu ketika, pria tersebut mendapatkan kecelakaan pada saat ia sedang mengendarai mobilnya ke tempat kerjanya. Kecelakaan tersebut melukai kedua belah matanya dan membuat pria tersebut buta seumur hidupnya. Setelah menjadi buta, ia tidak dapat bekerja dengan keras lagi seperti sebelumnya. Ia lalu banyak menggantungkan hidupnya pada pertolongan orang lain, terutama pertolongan istri dan anak-anaknya. Istrinya merasa kasihan kepadanya dan merawatnya dengan penuh kasih sayang. Begitu pula dengan anak-anaknya juga memberikan perhatian yang mendalam kepada ayahnya. Sang pria baru merasakan betapa besar kasih istri dan anak-anak kepadanya setelah ia buta dan tidak dapat mengerjakan apa-apa. Ia baru menyadari akan kurangnya perhatian dan kasih sayang yang ia berikan kepada istri dan anak-anaknya selama ini. Dengan keadaannya tersebut, ia baru dapat merasakan hidupnya lebih berarti dan menemukan kebagiaan dalam hidupnya. Hikmah yang dapat diambil dari cerita singkat tersebut adalah bahwa kita seringkali tidak dapat merasakan arti hidup ini, sampai kita kehilangan sesuatu yang berharga dari dalam diri kita. Kisah berikut yang tidak kalah menariknya adalah kisah seorang nelayan yang pekerjaannya mencari ikan. Dalam melakukan pekerjaannya, ia selalu mengerjakannya dengan santai dan tidak menggunakan cara-cara canggih untuk menangkap ikan. Ia selalu menangkap ikan dengan menggunakan pancingan yang ia miliki sambil menikmati apa yang dikerjakannya. Pada suatu saat ada seorang dari kota yang dalam hidup sehari-harinya bekerja keras mencari nafkah pergi berlibur dengan memancing. Pada saat ia sedang memancing, ia bertemu dengan sang nelayan. Sang nelayan sedang memancing sambil berbaring santai tanpa beban, sedangkan si pemancing memancing dengan agresif. Kemudian orang kota tersebut bertanya kepada sang nelayan mengapa ia bisa begitu santainya memancing padahal profesinya adalah sebagai nelayan, sedangkan dirinya yang saat itu sedang berlibur saja memancing dengan penuh agresivitas. Kemudian sang nelayan tersebut bertanya balik kepada orang kota itu mengapa bekerja begitu keras di kota. Si orang kota tersebut kemudian menjawab: ”Untuk mencari uang sebanyak-banyaknya, sehingga dapat menikmati hidup”. Lalu sang nelayan menjawab, ”Jadi Anda bekerja dengan keras dengan tujuan utama menikmati hidup? Untuk apa bekerja dengan keras kalau saat ini saja saya sudah dapat menikmati hidup. Saya selalu menikmati perkerjaan saya dan hidup saya.”Hikmah yang dapat ditarik dari kisah yang ketiga ini adalah bahwa banyak orang yang berpikir terlalu jauh untuk dapat menikmati hidup. Hal yang sangat sederhana untuk dapat menikmati hidup adalah dengan menikmati setiap pekerjaan yang kita lakukan. Setelah membaca kisah-kisah orang yang bahagia, sekarang saya akan coba untuk menceritakan beberapa kisah orang yang hidupnya tidak bahagia.Kisah pertama adalah tentang seseorang yang hidupnya selalu diisi dengan kerja keras, mencari uang dan uang. Itulah tujuan hidupnya, uang yang telah diperolehnya digunakan untuk berinvestasi lagi, dan lagi. Jarang Ia mau mengeluarkan uang tersebut untuk keperluan dirinya, apalagi orang lain. Sehingga orang tersebut hanya bekerja untuk melipatgandakan uang yang dimilikinya. Ia jarang sekali menikmati hari-hari yang dilaluinya bersama anak istrinya. Ia juga tidak bisa menikmati apa yang telah diperolehnya karena ia selalu merasa tidak pernah puas. Orang yang demikian adalah orang yang menyedihkan, karena walaupun sebenarnya ia kaya raya, namun sebenarnya jiwanya miskin sekali. Berikut adalah kisah seorang anak yang selalu cemas akan masa depan dan menunda diri untuk dapat menikmati hidup. Pada saat ia lulus Sekolah Dasar, ia berkata pada dirinya sendiri bahwa ia baru akan dapat menikmati hidup kalau ia telah lulus SMP. Dan pada saat ia lulus SMP, ia berkata bahwa ia baru akan dapat menikmati hidup kalau sudah lulus SMU. Dan begitu ia lulus SMU, ia berkata pada dirinya lagi bahwa ia baru akan dapat menikmati hidup jika telah menjadi sarjana. Setelah ia sarjana, ia masih belum dapat menikmati hidup dan merasa bahwa ia baru akan dapat menikmati hidup jika ia sudah sukses dalam pekerjaan dan menikah. Tidak lama kemudian ia menemukan cinta sejatinya dan menikah. Setelah menikah dan punya anak, ia berkata lagi pada dirinya, bahwa ia baru akan dapat menikmati hidup apabila telah berhasil membesarkan anak-anaknya. Sebelum ia berhasil membesarkan anak-anaknya, ia telah meninggal dunia karena mengalami kecelakaan pesawat terbang. Akhirnya anak tersebut telah meninggal tanpa dapat menikmati hidup yang telah lama ia jalani. Kebahagiaan yang SejatiBanyak orang yang sukar untuk mendapatkan kebahagiaan karena mereka berusaha untuk mencari kebahagiaan external, yaitu kebahagiaan yang dirasakan apabila mereka berhasil mendapatkan atau meraih sesuatu yang di luar dirinya. Sesuatu tersebut bisa berupa harta benda duniawi, ketenaran, nama baik, harga diri, kekuasaan, dsb. Apabila seseorang mendefinisikan kebahagiaan seperti ini, maka kebahagiaan yang didapat adalah kebahagiaan semu dan bersifat sementara. Biasanya kebahagiaan tersebut berlangsung dalam tempo yang singkat. Banyak orang yang tidak menyadari bahwa kebahagiaan dapat digali dari dalam diri tiap-tiap pribadi atau disebut juga dengan kebahagiaan internal. Apabila seseorang telah berhasil menemukan kebahagiaan internalnya, maka orang tersebut akan selalu merasakan bahagia dalam hidupnya, apa pun yang terjadi dalam hidupnya. Kebahagiaan internal ini tercapai apabila kita dapat selalu merasakan ketenangan, kedamaian, dan suka cita dalam segala situasi. Orang yang telah menemukan kebahagiaan internal biasanya dapat selalu menerima kenyataan yang terjadi dalam hidupnya dengan besar hati. Cara Menemukan Kebahagiaan SejatiLangkah pertama yang dapat kita lakukan dalam usaha menemukan kebahagiaan internal adalah dengan menyadari setiap pekerjaan yang kita lakukan. Pada saat kita sedang mengerjakan tugas-tugas penting, sadarilah apa yang sedang kita kerjakan saat itu, fokuskan pikiran pada apa yang kita kerjakan. Pada saat kita makan sadarilah bahwa saat itu kita sedang makan, pada saat kita sedang bernapas sadarilah udara yang keluar dan masuk dari hidung kita. Bawalah diri kita termasuk pikiran kita untuk menyadari apa yang terjadi saat ini (present time), jangan membiarkan diri kita selalu hanyut ke dalam kesenangan maupun kesedihan masa lalu, karena semuanya itu telah berlalu dari hidup kita. Satu detik yang baru saja berlalu telah menjadi kenangan dan menjadi masa lalu (past time). Jangan pula kita selalu membiarkan diri kita terhanyut ke dalam angan-angan yang jauh di luar realitas kita (future time). Hal ini bukan berarti kita tidak boleh bermimpi atau berangan-angan untuk masa depan kita. Jika kita mempunyai suatu rencana untuk masa depan, bayangkan dalam beberapa saat, kemudian tulislah tujuan kita tersebut dan tulis juga langkah-langkah yang harus kita tempuh sebagai usaha kita meraih tujuan yang selalu kita angan-angankan. Kemudian lakukan tindakan/action sesuai dengan apa yang telah kita tulis tersebut, sehingga kita tidak selalu terhanyut ke dalam angan-angan kita dan tidak dapat menemukan angan-angan tersebut di dalam realitas hidup kita sekarang. Setelah kita menjalankan langkah demi langkah yang telah ditulis, dan sebagian dari langkah yang telah kita tuliskan tersebut sudah tercapai, barulah kita bayangkan kembali cita-cita kita ke arah yang lebih tinggi. Dengan membayangkan cita-cita yang kita tuju sambil membuat blue print dan kemudian kita jalankan, maka cita-cita yang kita tuju akan lebih mudah untuk dicapai dan kita tidak akan merasa kecewa setelah kita selesai berangan-angan dan kembali ke realitas hidup, karena sebagian dari angan-angan kita sudah mulai tercapai. Namun apabila kita tidak membuat perencanaan dalam mencapai tujuan hidup kita seperti yang selalu kita angan-angankan, maka kita akan selalu terbawa hanyut ke dalam angan-angan kita, karena apa yang kita rasakan dalam realitas hidup tidak seindah apa yang kita bayangkan dalam kacamata imajinasi kita.Satu hal yang tidak kalah pentingnya untuk diperhatikan agar kita dapat menggali kebahagiaan yang tersimpan dalam diri kita adalah dengan selalu mengucap syukur atas segala kejadian yang menimpa diri kita. Jangan selalu membanding-bandingkan kehidupan kita dengan kehidupan orang lain yang menurut kita lebih baik dari kehidupan yang kita jalani saat ini. Kita tidak akan pernah tahu apakah orang yang kita anggap lebih “baik” itu benar-benar merasakan kebahagiaan dalam hidupnya. Bisa saja ia sedang berada dalam kecemasan karena memiliki utang yang sangat besar dan sedang bersiap-siap untuk melarikan diri, atau bisa saja orang tersebut tidak dapat merasakan kebahagiaan meskipun orang tersebut kaya raya, karena hubungan antaranggota keluarganya sudah tidak harmonis lagi. Jika kita baru saja mengalami hal yang paling buruk dalam hidup kita, dan merasa kita adalah orang yang paling tidak beruntung dalam hidup ini, dan kita tidak tahu apa yang harus kita syukuri, syukurilah udara yang masih dapat kita hirup dan embuskan, syukurilah bahwa kita masih memiliki hidup ini, yang artinya kita masih memiliki kesempatan untuk memperbaiki hidup kita. Orang yang paling gagal dalam hidupnya adalah orang yang sudah tidak memiliki kesempatan lagi untuk memperbaiki keadaan dirinya, alias orang tersebut sudah meninggal. Jadi selama kita masih hidup selalu syukuri apa yang terjadi di dalam diri kita. Hal yang sangat sederhana, bukan? Namun seringkali orang lupa akan hal ini. Bahagia adalah suatu perasaan, sesuatu yang sifatnya emosional. Perasaan bahagia ini timbul dari dalam diri kita karena kita secara fisik dengan menggunakan kelima indra kita telah mengalami suatu kejadian yang menurut diri kita sendiri menyenangkan hati dan pikiran kita. Kelima indra kita tersebut berpusat pada otak kita, otak kitalah yang mengirimkan rasa sakit yang diterima dari tangan kita yang terluka, otak kita jugalah yang mengirimkan bau wangi-wangian kepada kita. Sehingga perasaan bahagia tersebut dapat kita timbulkan apabila kita mampu mengendalikan pikiran kita. Dengan mengendalikan pikiran, maka seluruh indra yang kita miliki juga dapat kita kendalikan. Apabila seluruh pikiran dan indra kita bisa kita kendalikan, maka hasrat dan keinginan kita juga dapat kita kendalikan, sehingga rasa bahagia dapat kita kendalikan.Di samping itu kita juga harus menyadari bahwa hidup ini adalah suatu sirkulasi. Ada saat kita merasa sedih karena kehilangan seseorang yang paling kita cintai, namun dengan berlalunya waktu, perasaan sedih tersebut akan hilang, dan ada pula saatnya kita merasa senang karena menemukan seseorang yang mencintai diri kita. Dengan demikian perlu kita sadari bahwa semua hal sedih akan berlalu, dan begitu pula semua hal yang menyenangkan juga akan berlalu. Sehingga jika pada saat ini kita merasa senang, sadarilah bahwa kesenangan itu baru saja berlalu, dan jika pada saat ini kita merasa sedih karena suatu kejadian menimpa kita, sadari juga bahwa kejadian tersebut telah berlalu. Selama ini kita selalu menginginkan masalah-masalah yang membuat kita stress dan sedih untuk berlalu dari hadapan kita, namun kita jarang menyadari bahwa segala hal dan kejadian yang membuat kita senang juga sudah dan akan berlalu. Jadi senang dan sedih pasti akan berlalu. Kalau kita pernah mendengar ada sebuah judul lagu yang berbunyi Badai pasti berlalu, seharusnya ditambahkan menjadi “Badai pasti berlalu, Angin sejuk pun pasti berlalu”. Sikap yang Harus DibentukSabar adalah sikap pertama yang perlu kita bina, apabila kita ingin mencoba menggali kebahagiaan yang tersimpan dalam diri kita. Kita harus sabar apabila ada tujuan dalam hidup kita yang belum tercapai, kita juga harus sabar apabila masalah menerjang kita, kita harus sabar dalam usaha kita untuk mengendalikan pikiran kita, dsb. Semua yang kita kerjakan dan usahakan membutuhkan waktu untuk diproses, dan untuk itu dibutuhkan kesabaran.Besar hati merupakan sikap kedua yang harus turut dibentuk dalam diri kita. Kita harus bisa dengan besar hati menerima semua kejadian buruk yang menimpa kita, kita juga harus berbesar hati dalam menerima kenyataan pahit yang menjadikan keadaan kita jauh berbeda dari yang kita impikan. Dengan memiliki sikap yang satu ini dalam pribadi kita masing-masing, maka kita telah memiliki 50% power (kekuatan) untuk menggali kebahagiaan.Sikap berikut yang tidak kalah pentingnya adalah tabah. Kita harus selalu tabah dalam melewati masa-masa sulit yang kita alami. Sebenarnya masa sulit itu datangnya tiba-tiba dan tanpa kita rasakan telah terjadi. Perhatikan kata telah yang saya miringkan! Kata tersebut menunjukkan bahwa kejadian tersebut sebenarnya telah berlalu, dan membuat kita merasa sedih dan susah sebenarnya adalah diri kita sendiri yang tidak mau menerima kenyataan dengan besar hati dan tabah. Jadi perasaan kita inilah yang menciptakan rasa sedih. Sikap yang menurut saya juga berperan dalam membentuk potensi kita untuk menemukan kebahagiaan adalah tidak mudah putus asa. Apabila kita mengalami suatu kegagalan yang membuat kita sedih, maka kita harus yakini bahwa kegagalan itu telah berlalu, dan perasaan gagal tersebut jangan kita pendam terus. Kita harus berusaha lebih baik lagi untuk mencapai tujuan kita dan menghapuskan perasaan sedih yang meliputi hati kita.Ringkasan dari artikel ini adalah: carilah, galilah dan temukanlah kebahagiaan dalam diri Anda sendiri. Jangan selalu mencari kebahagiaan eksternal, karena kebahagiaan eksternal tersebut sifatnya sementara. Semoga dengan membaca artikel singkat ini, Anda dapat menemukan kebahagiaan sejati dalam diri Anda ! Terima Kasih.